Menilik Sejarah Walisongo, Para Perantara Agama Islam di Tanah Jawa

Tanah Jawa bisa dikatakan tidak akan mengenal ajaran agama Islam tanpa hadirnya kesembilan guru, sunan atau yang lebih dikenal dengan Walisongo. Kiprah mereka dalam menjalankan dakwah agama Islam ini dipenuhi dengan kerja keras yang tidak ternilai harganya. Bagaimanakah para perantara agama islam ini pada awalnya hingga akhir hidup mereka mencoba mengenalkan masyarakat Jawa pada agama ini? Berikut ulasan mengenai sejarah Wali Songo.
walisongo
Walisongo


Sembilan Tokoh Yang Berpengaruh dalam Penyebaran Agama Islam


Sebelum datangnya para wali atau ulama yang membawa ajaran agama Islam, penduduk nusantara sebagian besar menganut agama Hindu, Budha dan beberapa aliran kepercayaan seperti Animisme dan Dinamisme. Agama Islam saat itu diturunkan di tanah Arab melalui perantara Nabi Muhammad SAW. Agama islam ini meluas hingga ke seluruh dunia dibawa oleh berbagai para perantara termasuk ulama dan wali yang nantinya juga tiba di nusantara. Ulama yang pertama membawa ajaran Islam adalah Maulana Malik Ibrahim yang juga merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Datangnya Maulana Malik Ibrahim ini murni untuk berdakwah. Dengan cara atau teknik mengajarnya yang cukup halus dan lemah lembut, Maulana Malik Ibrahim diterima dengan baik oleh masyarakat. Beliau dijuluki sebagai wali pertama yang diberi julukan Sunan Gresik. Sebenarnya ada banyak tokoh penyebar agama Islam lain yang juga turut berperan aktif, akan tetapi kesembilan wali inilah yang paling memberikan kesan tak ternilai di hati penduduk Indonesia. Sembilan tokoh/ Wali Songo tersebut adalah :

1. Sunan Gresik

Bernama Asli Maulana Malik Ibrahim, beliau berasal dari Samarkhan Asia Tengah. Pada tahun 1392, beliau yang awalnya bermukim di Champa, hijrah ke tanah jawa. Mulanya, beliau tiba di daerah Manyar yaitu 9 kilometer di utara kota Gresik. Karena kecakapannya, raja Majapahit memberikan sebidang tanah di daerah Gresik dan membuka pesantren untuk memulai dakwah pengajaran agama Islam. Itulah mengapa kemudian beliau dipanggil dengan sebutan Sunan Gresik. Sunan Gresik memiliki dua putra. Salah satunya bernama Raden Rahmat.

2. Sunan Ampel

Nama aslinya adalah Raden Rahmat. Beliau merupakan putra dari Sunan Gresik yang turut serta hijrah ke tanah Jawa. Sunan Ampel lahir pada tahun 1401, setelah mengikuti ayahnya merantau, beliau bermukim di daerah Ampel, Surabaya sebagai tanah yang juga dihadiahi oleh raja Majapahit. Di daerah tersebut, Sunan Ampel membangun pesantren yang terkenal ke seluruh pelosok tanah air hingga ke manca negara. Sunan Ampel memiliki murid yang juga ikut menyebarkan ajaran agama seperti Sunan Giri dan Raden Patah.

3. Sunan Giri

Sunan Giri memiliki nama Asli Raden Paku. Beliau lahir di Banyuwangi pada tahun 1442. Sunan Giri merupakan keponakan dari Sunan Gresik yaitu anak dari saudara kandungnya yang bernama Maulana Ishak. Sunan Giri belajar di pesantren saudara sepupunya yaitu Sunan Ampel bersama dengan Raden Patah. Setelah itu, beliau merantau ke seluruh pelosok Nusantara namun kemudian kembali ke tanah Jawa dan menetap di daerah Giri dan mendirikan pesantren. Sunan Giri tidak hanya merupakan ulama handal, namun beliau juga memiliki bakat pemimpin. Pada saat itu, raja Majapahit memberikan kekuasaan pada Sunan Giri untuk memimpin pemerintahan.

4. Sunan Bonang

Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel atau cucu dari Sunan Gresik. Sunan Bonang melakukan dakwah di daerah Tuban atas perintah ayahnya. Di sana beliau juga mendirikan pesantren yang muridnya berasal dari seluruh wilayah nusantara. Salah satu murid Sunan Bonang sekaligus sahabatnya adalah Sunan Kalijaga. Sunan Bonang mengajarkan agama Islam melalui alat gamelan. Hal ini merupakan salah satu cara yang ditempuh agar masyarakat indonesia bisa menerima ajaran Islam.

5. Sunan Kalijaga

Sunan kalijaga memiliki nama kecil yaitu Raden Said. Beliau merupakan putra dari Arya Wilatikta, adipati Tuban yang pernah melakukan pemberontakan kepada pemerintahan Majapahit. Menurut beberapa sumber, Sunan Kalijaga hidup hingga usia diatas 100 tahun, yang artinya bahwa beliau melalui beberapa masa pemerintahan seperti kerajaan Majapahit, kesultanan Demak, kesultanan Cirebon dan Banten dan kerajaan Pajang. Metode pengajarannya hampir sama dengan Gurunya Sunan Bonang yaitu menggunakan pendekatan kultural atau budaya. Karena peninggalan karya seninya, beliau menjadi wali yang disebut paling berpengaruh dalam bidang kesenian dan kebudayaan.

6. Sunan Gunungjati

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan cucu dari raja Padjajaran yaitu anak Nyai Rara Santang dengan seorang ulama pembesar Mesir bernama Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Beliau lahir di Mesir. Setelah ayahnya meninggal dunia, beliau kembali ke tanah Jawa bersama ibunya. Sunan Gunung Jati menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Cirebon bersamaan dengan Kasultanan Cirebon yang beliau dirikan. Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh wali yang menjadi pemimpin pemerintahan. Beliau mundur dari pemerintahan pada saat usia 89 tahun dan memfokuskan diri untuk kembali berdakwah.

7. Sunan Drajat

Sunan Drajat bernama asli Raden Qosim yaitu anak dari Sunan Ampel. Beliau merupakan saudara Sunan Bonang. Sunan Drajat diperintahkan ayahnya untuk berdakwah di daerah pesisir Gresik, namun kemudian beliau menetap di Lamongan dan mendirikan pedepokan. Sunan Drajat melakukan pengajaran agama Islam menggunakan metode yang dilakukan ayahnya yaitu dengan cara langsung tanpa menggunakan perantara budaya lokal. Beliau juga merupakan orang yang bersahaja dan suka menolong seperti ayah dan kakeknya. Oleh karena itu, proses dakwahnya cukup masuk di hati masyarakat sekitar.

8. Sunan Kudus

Sunan Kudus memiliki nama kecil Jaffar Shadiq. Beliau adalah putra dari Sunan Ngudung dan Syarifah atau Adik Sunan Bonang. Sunan Kudus belajar pada Sunan Kalijaga sehingga metode dakwahnya pun mirip dengan Sunan Kalijaga yaitu menggunakan pendekatan budaya. Sunan Kudus melakukan dakwah di Daerah Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Agak sedikit berbeda dengan pendahulunya yang berada di sekitar pantai utara Jawa Timur. Pendekatan yang dilakukan Sunan Kudus lebih kepada penggunaan simbol-simbol agama Hindu Budha yang digambar di masjid-masjid. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat sekitar.

9. Sunan Muria

Sunan Muria memiliki nama kecil Raden Prawoto. Beliau merupakan anak dari Dewi saroh dengan Sunan Kalijaga. Dewi Saroh adalah adik kandung Sunan Giri, jadi Sunan Muria ini juga masih cucu dari Sunan Gresik. Sunan Muria melakukan dakwah di daerah lereng gunung Muria yaitu 18 kilometer ke utara kota Kudus. Metode dakwah yang dilakukannya mirip dengan cara ayahnya yaitu melalui pendekatan kearifan budaya. Sunan Muria lebih suka hidup dan berdakwah di daerah terpencil, namun karena karakternya yang bijaksana, beliau menjadi sosok yang selalu dicari dalam menemukan solusi atau pemecah permasalahan. Solusi yang disarankan oleh Sunan Muria ini cenderung adil dan menguntungkan bagi kedua belah pihak yang berseteru. Beliau bahkan diangkat menjadi penengah untuk konflik yang terjadi dalam Kesultanan Demak.

Itulah beberapa sejarah Wali Songo yang setidaknya harus kita ketahui dan pelajari. Kiprah mereka dalam dakwah dan pengajaran agama islam di tanah Jawa ini merupakan peninggalan yang tak ternilai. Wali Songo inilah yang menjadi perantara penyampaian agama Islam yang awalnya diturunkan di tanah Arab.

0 Response to "Menilik Sejarah Walisongo, Para Perantara Agama Islam di Tanah Jawa"

Post a Comment

Komentar di moderasi, silahkan login menggunakan account Google anda untuk berkomentar, komentar dari user unknown tidak akan ditampilkan. Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan ditengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel