26 Fakta Unik Tsunami yang Harus Anda Waspadai

Indonesia merupakan negara maritim, yakni negara dengan kawasan laut yang sangat luas. Kenyataan ini merupakan anugerah yang luar biasa karena lautan menyimpan berjuta kekayaan alam yang dapat memakmurkan rakyat Indonesia. Namun, kita tak boleh lupa bahwa ada bahaya bencana dari laut yang bisa datang tiba-tiba. Ya, bencana Tsunami. Beberapa akhir tahun ini bangsa Indnesia sedang berduka karena beberapa daerah di landa bencana tsunami, mulai dari tsunami di Palu dan Donggala, hingga tsunami Selat Sunda.
gelombang tsunami


Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan tsunami? Tsunami merupakan gelombang besar air laut yang disebabkan oleh gempa di dasar laut. Gelombang akan menyebar ke segala arah dengan kecepatan 600-900 km/jam dan permukaan air akan naik 15-30 meter. Kecepatan arus yang tinggi membuat tsunami dapat menjangkau beberapa kilometer daerah tepi pantai, hingga menyebabkan kerusakan dan menelan korban jiwa. Maka dari itu, kali ini kita akan membahas beberapa fakta unik tsunami yang harus diwaspadai

1. Kata Tsunami Berasal dari Serapan Bahasa Jepang

Tsunami berasal dari kata “tsu” yang memiliki arti pelabuhan dan “nami” yang berarti gelombang.

2. Teori Penyebab Tsunami

Pada tahun 426, seorang sejarawan Yunani Kuno bernama Thucydides menulis buku dengan judul "History of the Peloponnesian War". Buku tersebut berisi penemuan teori pertama kali yang menyatakan gempa bumi bawah laut menjadi sebab terjadinya tsunami. Gempa bumi dapat menyebabkan tsunami apabila menyebabkan pergerakan di dasar laut sehingga terjadi pergerakan air secara tiba-tiba dalam jumlah banyak.

3. Penyebab Tsunami, Salah Satunya Gempa Bumi Bawah Laut dengan Kekuatan 7,0 skala magnitudo

Penyebab paling umum tsunami 80 %-90 % adalah gempa bumi di dasar laut dengan kekuatan 7,0 skala magnitudo atau lebih yang terjadi di zona penunjaman. Selain itu tsunami juga dapat disebabkan oleh letusan gunung, benda besar seperti meteor yang jatuh ke dalam laut, atau longsor.

Aktivitas vulkanik yang terjadi akibat letusan gunung menyebabkan bibir gunung menjadi naik atau turun, sehingga memicu tsunami yang sama dengan tsunami akibat gempa bumi di dasar laut. Selain itu dapat juga terjadi karena ledakan besar yang menyebabkan pulau gunung berapi di tengah laut menjadi hancur. Akibatnya air laut bergerak mengisi cekungan pulau tersebut, kemudian menghasilkan gelombang besar.

Tsunami juga dapat disebabkan oleh tanah longsor yang terjadi di daratan maupun di bawah laut.

Longsor yang terjadi di daratan dapat mengakibatkan tsunami jika memindahkan material, seperti bebatuan ke dalam laut. Sedangkan tsunami yang disebabkan oleh tanah longsor di bawah laut umumnya terjadi karena gempa, longsor dapat memperparah gangguan pada air setelah terjadi gempa. Fenomena ini dapat menyebabkan tsunami, walaupun sebenarnya kekuatan gempa tersebut tidak menyebabkan tsunami atau kekuatan gempanya dibawah 7,0 skala magnitude.

Contoh peristiwa tsunami yang disebabkan oleh gempa bermagnitudo di atas 7,0 lebih sedikit, namun menyebabkan tsunami besar dengan ketinggian 15 meter adalah peristiwa gempa bumi di Papua Nugini pada tahun 1988. Selain itu terjadi pula pada tahun 1958 tsunami akibat longsornya daratan, yakni tsunami Alaska.

4. Tragedi Tsunami dengan Kekuatan Gempa Paling Besar

Gempa yang dapat menyebabkan tsunami adalah gempa dengan kekuatan minimal 7,0 skala magnitudo. Dalam catatan sejarah, tragedi tsunami dengan kekuatan gempa paling besar yakni tsunami Samudera Hindia pada tahun 2004 dengan gempa bermagnitudo 9,1. Tsunami yang berimbas pada Aceh ini merupakan tsunami dengan dampak terparah.

Jumlah korban meninggal mencapai lebih dari 20 ribu korban dan beberapa dinyatakan hilang. Selain tsunami Aceh, sebelumnya juga telah terjadi tsunami paling mematikan, yakni tsunami laut China Selatan pada tahun 1781 yang menewaskan 40 ribu orang, tsunami akibat letusan Krakatau pada tahun 1883 yang menewaskan 36.500 orang.

5. Tsunami Dapat Terdeteksi

Teknologi ilmu pengetahuan saat ini semakin canggih. Setiap negara, termasuk Indonesia telah memilki sistem peringatan dini terjadinya tsunami. Alat pendeteksi tsunami disebut dengan Buoy. Alat ini berfungsi menganalisis kekuatan gempa yang terjadi di dasar laut dan perubahan air laut.

6. Zona Paling Rentan Tsunami adalah Kawasan Lingkar Api Pasifik

Zona yang rentan mengalami bencana tsunami adalah daerah yang memiliki potensi pemicu tsunami. 80 % tsunami yang telah terjadi berada di kawasan “Lingkar Api Pasifik”, yakni Selandia Baru, Papua Nugini, Indonesia, Filipina, Jepang, Amerika Utara dan Selatan.

7. Kawasan Indonesia yang Rentan Tsunami

Beberapa kawasan di Indonesia merupakan zona penunjaman (daerah pertemuan dua lempeng yang mengakibatkan salah satu lempeng terbenam), sehingga rentan terjadi tsunami. Kawasan tersebut adalah Palung Sumatra yang terletak di Samudera Hindia, serta selatan pulau Sumatra dan Jawa.

8. Arus Tsunami Bertahan Lama

Gelombang tsunami memiliki periode 70 sampai 2000 detik, lebih besar dibandingkan ombak biasa yang hanya 10 detik. Maka dari itu arus yang disebabkan oleh tsunami akan bertahan lama.

9. Pengukuran Banjir Akibat Tsunami

Banjir yang diakibatkan oleh tsunami diukur dengan dua besaran, yakni inundasi atau penggenangan dan kenaikan. Inundasi merupakan jarak maksimal yang telah ditempuh tsunami ke dalam daratan secara horizontal. Sedangkan kenaikan adalah maksimum ketinggian yang tergenang banji dibandingkan dengan ketinggian normalnya air laut.

10. Besar Kecepatan Gelombang Tsunami

Tinggi tsunami ketika di laut terbuka kurang dari 30 cm. Namun karena kecepatannya yang tinggi–beberapa gelombang dikatakan bisa secepat pesawat jet–dan mencapai daerah pantai yang lebih dangkal, maka tinggi gelombang meningkat akibat air di bagian atas bergerak lebih cepat daripada bagian bawah. Pada ombak laut yang terjadi biasanya, kecepatan rambat gelombang mencapai 50km/jam. Sedangkan saat terjadi tsunami, kecepatan gelombang air laut meningkat menjadi 600-900 km/jam.

Perbedaan tsunami dengan ombak biasa yakni gelombang tsunami melibatkan air di seluruh area vertical bagian dalam dan dangkal. Gelombang tsunami dapat mencapai dasar laut sehingga total energy yang dihasilkan jauh lebih besar daripada ombak biasa. Ketika merambat ke laut bagian dalam, hanya sebagian kecil tanda gangguan yang tampak di permukaan.

11. Air Laut Mengalami Surut Sebelum Tsunami

Sebelum terjadi tsunami air laut akan mengalami surut karena tsunami berbentuk gelombang yang memiliki puncak dan lembah. Sebelum terjadi tsunami, lembah gelombang akan sampai lebih dahulu sehingga air laut turun. Kondisi ini cukup membahayakan, karena dikhawatirkan orang akan terpancing untuk mendatangi laut untuk mencari ikan (kondisi air laut yang surut menyebabkan ikan melimpah terlihat), padahal ia tidak mengetahui bahwa akan terjadi tsunami. Banyak korban menghilang saat tsunami Aceh karena orang-orang mendekat ke laut saat air laut surut. Para ahli menjelaskan bahwa surutnya air laut bisa jadi tanda bahwa sekitar 5 menit kemudian akan terjadi tsunami.

12. Gambaran Tsunami seperti Ombak dengan Peselancar

Tsunami merupakan gelombang besar air laut dengan kecepatan sangat tinggi. Maka dari itu, tsunami sering digambarkan layaknya dinding air raksasa atau ombak yang ditunggangi peselancar ke daratan.

13. Di Daratan, Tsunami Tidak Hanya Sebuah Gelombang

Saat air laut akibat tsunami mencapai daratan, isinya tidak hanya terdiri dari sebuah gelombang, melainkan rangkaian gelombang dengan amplitude dan frekuensi berbeda yang saling memperkuat.

14. Gelombang Tsunami Datang Berkali-Kali

Tsunami dikenal dengan sebutan “kereta gelombang” karena gelombang yang menerjang daratan datang berkali-kali. Gelombang tsunami susulan akan terjadi 5 menit sampai 1 jam dari gelombang sebelumnya. Pada umumnya yang dapat merusak bukanlah gelombang pertama tsunami, melainkan gelombang ke-5 atau ke-6 yang dapat merusak dengan kuat daerah yang dilaluinya.

15. Jarak yang Dapat di Terjang Tsunami

Luar biasa, tsunami dapat bergerak ke daerah dengan jarak sekitar radius 250 mil dari pusat tsunami dalam waktu 30 menit. Ketika terjadi gempa, sebaiknya penduduk yang berada di pesisir pantai segera mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi. Gelombang tsunami yang terjadi pada di Sumatera pada tahun 2004 membuktikan bahwa gelombang tsunami dapat melewati samudera tanpa mengurangi energi gelombang. Saat itu gelombang tsunami dapat bergerak sejauh 5.000 km sampai Afrika dengan berhasil merusak gedung dan menelan korban jiwa.

Luar biasanya, tsunami juga dapat memiliki kecepatan 800 km per jam. Ilmuwan dapat mendeteksi waktu tiba tsunami dengan memperhitungkan kejadian yang memicu tsunami, jarak, dan kedalaman air.

16. Gelombang Tsunami di Dalam Laut Lebih Rendah

Ketika masih berada dalam laut, tinggi gelombang tsunami hanya 1-3 kaki. Ini yang menyebabkan pelaut sulit mengetahui bahwa ternyata di bawah kapal mereka terjadi gelombang tsunami. Namun secara alamiah, lautan memiliki pemecah gelombang tsunami sehingga dampaknya tidak terlalu besar ketika di daratan. Contoh bagian yang dapat meredam tsunami adalah karang, muara, dan teluk.

17. Kerusakan Akibat Tsunami

Setelah terjadi tsunami, kerusakan paling parah terjadi karena arus air yang tinggi dan penuh dengan puing benda hanyut. Sedangkan kerusakan akibat hantaman awal tsunami lebih kecil.

18. Surutnya Tsunami juga Menimbulkan Kerusakan

Kerusakan akibat tsunami dapat terjadi ketika banjir tsunami mulai surut dan arus air kembali ke laut. Air yang kembali ke laut akan mengalir dengan cepat dan bergejolak, sehingga merusak fondasi bangunan dan menyebabkan erosi.

19. Fungsi Peringatan Dini Tsunami

Adanya sistem peringatan dini tsunami akan memperkecil jumlah korban jiwa dan kerusakan. Sistem ini berfungsi untuk mendeteksi resiko tsunami, memberikan perkiraan daerah yang terdampak, dan memberikan peringatan agar masyarakat dapat mengambil tindakan, seperti mengungsi.

20. Cara Kerja Peringatan Dini Tsunami

Pada umumnya, saat alat pendeteksi dini tsunami telah mendeteksi terjadinya gempa dengan kekuatan 7,0 skala magnitudo, maka lembaga yang berwenang (BMKG) akan memberi himbauan kepada masyarakat untuk segera mengungsi disertai informasi perkiraan kasar ukuran dan waktu kedatangan tsunami. Sementara itu, BMKG akan terus mengumpulkan data terkait perubahan permukaan laut, kedalaman, dan karakteristik dasar laut menggunakan alat pengukur pasang surut yang sebelumnya telah diletakkan di berbagai titik lokasi.

21. Sejarah Deteksi Dini Tsunami Akibat Gempa

Pada tahun 1900 Vulkanolog Amerika Serikat, Thomas A Jaggar dari Hawai telah melakukan pemantauan gempa bumi bermagnitudo besar sebagai upaya deteksi dini tsunami. Namun saat itu, metode yang digunakan masih belum efektif dan kurang akurat karena sering mengeluarkan tanda tsunami, padahal tidak terjadi tsunami.

Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) merupakan pusat peringatan dini pertama yang dirikan pada tahun 1949 di Hawai sebagai tanggapan terhadap tsunami akibat gempa bumi kepulauan Aleut pada tahun 1946. Kemudian sejak 1965, negara-negara Samudera Pasifik ikut berpartisipasi dalam sistem ini, sehingga kini PTWC beranggotakan 46 negara.

22. Kecepatan Gelombang Tsunami Bertahan Lama

Saat tsunami mencapai air dangkal, gelombang akan mengecil dan panjang gelombang memendek, namun amplitudonya tetap tinggi. Akibatnya, kecepatan gelombang 50 mph tetap bertahan lama.

23. Memprediksi Tsunami dengan Drawback

Kita dapat memprediksi datangnya tsunami dengan melihat gejala alam. Pada beberapa peristiwa tsunami yang pernah terjadi, peringatan alam dapat terlihat ketika air laut di sepanjang pantai tiba-tiba surut. Hal yang terjadi sebenarnya palung tsunami berada di dasar tanah sebelum gelombang nantinya akan memuncak. Cara melihat fenomena ini disebut dengan Drawback.

Menggunakan Drawback sebelum terjadi tsunami terbukti mampu mengurangi resiko menjadi korban tsunami. Sebagai contoh, seorang gadis menyelamatkan ratusan jiwa dengan Drawback. Sebelum terjadi tsunami Samudera Hindia tahun 2004, Seorang gadis Inggris berusia 10 tahun bernama Tilly Smith menyelamatkan hampir seratus jiwa dengan pengetahuan Drawback. Dia belajar tentang drawback dalam pelajaran geografi. Saat sebelum tsunami dia memperingatkan keluarganya kemudian kepada orang lain, sehingga mereka selamat. Gadis kecil itu berkesempatan pidato di PBB dan mendapat asteroid yang dinamai 20002 Tillysmith.

24. Kehidupan Hampir Punah karena Tsunami

Ilmuwan pernah menemukan bukti bahwa pernah terjadi beberapa tsunami besar akibat tumbukan asteroid. Akibatnya, garis pantai dan kepulauan berubah dan hanya hanya gunung tertinggi 3,5 miliar tahun yang lalu yang selamat. Garis pantai dan kepulauan berubah drastis. Kehidupan di bumi hampir punah.

25. Bangunan Tahan Tsunami

Berdasarkan pengamatan terhadap daerah yang pernah terjadi tsunami, ada beberapa struktur bangunan yang memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, yakni bangunan dengan ruang terbuka yang luas sehingga bisa dilewati oleh air tanpa mengalami banyak benturan dan bangunan dengan struktur beton. Hal ini dapat mengurangi resiko rusaknya bangunan karena dihantam kecepatan tinggi arus tsunami dan benda-benda yang hanyut.

Bangunan dengan struktur beton yang kuat, lantai atasnya dapat dimanfaatkan untuk evakuasi darurat dan sementara bagi masyarakat yang tidak sempat menjangkau daerah dataran tinggi. Selain itu, seperti di Jepang dan Hawai telah dibangun tembok dengan struktur khusus ditepi pantai sebagai pemecah gelombang. Bangunan ini tidak memiliki kekuatan cukup untuk menghentikan tsunami, namun mengurangi kekuatan arus tsunami.

26. Pentingnya Kewaspadaan Masyarakat Tepi Pantai

Lembaga nasional maupun internasional telah memberikan beberapa saran yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan diri dari tsunami. Komisi Oseanografi Antar pemerintah menyarankan agar penduduk di daerah rawan tsunami untuk memiliki rencana darurat jauh-jauh hari, yakni koordinasi dengan keluarga di dataran yang lebuh tinggi dan mengikuti instruksi dari BMKG. Jika merasa ada gempa, meski belum ada peringatan diru dari BMKG, sebaiknya masyarakat terlebih dahulu mengungsi ke daerah yang lebih tinggi karena tsunami dapat terjadi dengan cepat di daerah pusat gempa. Salah satu gejala alam yang dapat menandakan datangnya tsunami adalah bunyi deruan keras dari laut dan naik atau surutnya permukaan air laut secara tiba-tiba.

Demikian rangkaian fakta unik tsunami yang harus diwaspadai. Kita tidak dapat mencegah atau menghentikan tsunami yang terjadi karena hal tersebut merupakan peristiwa alami alam. Namun kita dapat menghindari atau mengurangi resiko menjadi korban tsunami dengan adanya alat pendeteksi dini tsunami dan pengetahuan mengenai tanda-tanda terjadi tsunami (Drawback). Semoga kita semua senantiasa diselamatkan dari segala bencana.

0 Response to "26 Fakta Unik Tsunami yang Harus Anda Waspadai"

Post a Comment

Komentar di moderasi, silahkan login menggunakan account Google anda untuk berkomentar, komentar dari user unknown tidak akan ditampilkan. Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan ditengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel